Rabu, 07 Agustus 2013

Makhluk Hidup Paling Ekstrem di Dunia



Selama ini, manusia mungkin merasa sebagai makhluk hidup paling kuat yang ada di bumi. Tetapi, ternyata terdapat beberapa makhluk hidup lain yang terbukti jauh lebih kuat daripada manusia.

Makhluk-makhluk hidup ini dijuluki "extremophiles". Mereka mampu bertahan hidup di lingkungan yang sangat panas, dingin, kering, asin, asam, basa, bertekanan tinggi, atau mengandung radioaktif.

Berikut ini adalah lima makhluk extremophiles seperti dirangkum NationalGeographic.com.

1. Tardigrade dan tiaras


Berukuran sekitar 1 milimeter, tardigrade termasuk dalam jenis polyextremophile dan mampu hidup dalam berbagai kondisi ekstrem.

Tardigrade dapat bertahan dalam rentang suhu -200 derajat celsius hingga 151 derajat celsius, bertahan di lingkungan kurang air dan oksigen serta dalam kondisi alkohol yang mendidih. Makhluk ini juga ribuan kali lebih tahan terhadap paparan radiasi dibandingkan manusia. 

Tardigrade bertahan hidup dengan berubah menjadi cryptobiosis ketika berada di lingkungan yang tidak mendukung. Bentuk ini membuatnya "mati suri" karena beberapa sistem tubuhnya, seperti metabolisme, mati sementara. Kondisi ini bisa berlangsung puluhan tahun.

2. Udang Air Asin

Udang air asin adalah halofil makhluk yang hidup di The Great Salk Lake, Utah. Tempat hidup makhluk ini memiliki kandungan garam sepuluh kali lipat lebih banyak daripada samudra.

Kemampuan udang air asin untuk bertahan hidup di tempat ekstrem ditunjang oleh tubuhnya. Udang ini memiliki bagian luar tubuh yang kedap air sehingga menguntungkan karena air asin hanya bisa masuk melalui mulutnya.

Makhluk ini bahkan memiliki dua "pompa", insang dan kelenjar khusus pada leher, yang mampu menyaring garam dan membuat kandungan garam di tubuhya tetap seimbang.

Udang air asin juga memiliki tiga jenis hemoglobin, protein yang berguna untuk mengikat oksigen dalam darah, yang jumlahnya akan meningkat seiring dengan peningkatan kandungan garam di dalam air.

3. Cacing Es Metana

Cacing es metana sekilas mirip dengan alien. Makhluk ini ditemukan pada tahun 1997 di dasar laut Teluk Meksiko.

Makhluk datar, berwarna merah muda, dan sepanjang dua inci ini ditemukan bersembunyi dalam gundukan metana. Mereka diduga juga hidup pada bakteri yang tumbuh pada metana.

Dalam sebuah penelitian, diketahui bahwa cacing ini memiliki rambut tipis yang tumbuh di sekitar tubuhnya.

Cacing es metana bertahan hidup dengan ganggang dan mirip cacing. Namun, sistem reproduksi, metabolisme, dan pertumbuhannya seakan sudah "dirancang" untuk dapat bertahan hidup dalam lingkungan yang beku.

Ia dapat bertahan hidup dalam suhu nol derajat celsius, tetapi bisa mencair dan mati ketika suhu meningkat menjadi empat derajat celsius.

4. Mikroba Rushing Fireball

Mikroba rushing fireball adalah makhluk yang mampu bertahan dalam kondisi panas ekstrem. Makhluk ini masih mampu hidup meskipun berada dalam panas 100 derajat celsius.

Makhluk bernama Pyrococcus furiosus ini pertama kali ditemukan oleh Karl Stetter di geotermal panas sedimen laut di Vulcano Island, Italia.

Russell mcLendon dalam Mother Earth News melaporkan bahwa para peneliti kini tengah mengembangkan jenis mikroba rushing fireball yang mampu bertahan di kondisi lebih dingin serta memiliki "selera" terhadap karbondioksida. Makhluk tiruan ini nantinya akan dimanfaatkan untuk menjadi bahan bakar


5. Bakteri Tahan Radiasi

Bakteri tahan radiasi itu adalah Dienococcus radiodurans. Bakteri ini ditemukan hampir lima puluh tahun yang lalu dalam sebuah daging yang sudah disterilkan dengan radiasi.

Ketika terpapar radiasi, tubuh Dienococcus radiodurans akan pecah, tetapi ia akan mampu kembali lagi ke bentuk semula.

Guiness World Record mencatat bakteri yang juga disebut mikroba Lazurus ini sebagai makhluk hidup paling tahan radiasi. Makhluk ini mampu menahan paparan radiasi 3.000 kali lebih banyak dari yang mampu diterima manusia.

Bakteri tahan radiasi ini kini tengah dikembangkan oleh para peneliti. Mereka memikirkan kemungkinan memanfaatkan bakteri ini untuk melindungi manusia dari paparan radiasi yang berasal dari kemoterapi dan sinar Matahari.





Megapolitan Semut

Para arkeolog berhasil menemukan sarang semut raksasa yang begitu besar sehingga layak disebut megapolitan semut. Arkeolog menemukan sarang tersebut di wilayah Brasil.
Ilmuwan memercayai bahwa megapolitan itu menjadi tempat koloni semut terbesar di dunia yang pernah hidup. Namun, hingga sekarang belum diketahui mengapa kota itu ditinggalkan koloni semut yang membuatnya.
Sebelum penggalian sarang, para ilmuwan lebih dulu menuang cor-coran untuk mengisi rongga-rongga ke liang semut. Butuh 10 hari untuk menuang cor-coran di wilayah seluas 500 kaki persegi dan melebar hingga 26 kaki di bawah tanah. Setelah sebulan, tim ilmuwan yang dikepalai Luis Forgi mulai melakukan penggalian. Hal cetakan menunjukkan bahwa sarang semut ini begitu megah bagai Tembok Besar China.
Ilmuwan menemukan, sarang semut ini memiliki saluran lengkap yang berfungsi sebagai ventilasi sekaligus jalur transportasi. Ada jalan besar seperti jalan raya maupun jalan kecil layaknya jalan tikus. Dari jalan-jalan utama di kota semut, terdapat cabang-cabang yang menuju ke tempat sampah dan taman jamur, yang oleh semut terus dimanfaatkan sebagai sumber makanan.
Menurut perkiraan ilmuwan, seperti diberitakan Daily Mail, Kamis (2/2/2012), kota semut ini dibangun dengan melibatkan jutaan semut. Diperkirakan ada 40 ton tanah yang diangkut oleh semut untuk membuat liang labirin ini. Kemegahan kota semut ini menunjukkan betapa kompleks koloni semut. Menurut pendapat ilmuwan, koloni semut merupakan kedua terkompleks setelah manusia.
Koloni semut dipimpin oleh seekor ratu. Berdasarkan penelitian, ratu semut bisa mengumpulkan sebanyak 300 juta sperma dari pejantan sebelum membangun koloni. Telur-telur yang dihasilkan sang ratu akan menjadi cikal-bakal koloni semut. Semakin banyak telur yang dihasilkan dan bertahan hidup, semakin besar pula koloni semut nantinya.
Koloni semut nantinya memiliki berbagai tugas, mulai dari mengumpulkan daun, menumbuhkan jamur dengan media dedaunan, hingga membuang sampah dan membuang parasit berbahaya. Sementara itu, ada semut-semut bertubuh besar yang bertugas sebagai angkatan bersenjata mempertahankan wilayah. Kadang-kadang, mereka juga dikerahkan untuk membangun terowongan alias liang.
Hasil kebudayaan koloni semut tersebut terbilang luar biasa. Sosiobiologi semut adalah salah satu yang paling menarik untuk dipelajari. Boleh jadi, dengan mempelajarinya, manusia juga bisa belajar dari semut.

di kutib dari: Harian Kompas

Rayap (macrotermes sp)


Keajaiban Musamus, Rumah Semut Raksasa di Taman Nasional Wasur

Kalau pergi ke Merauke kita heran dengan rumah semut raksasa yang ada di sana. Bagaimana tidak? Biasanya kita melihat rumah semut paling tinggi sebesar ibu jari kita, namun di Merauke rumah semut menjadi setinggi hampir 3 meter lebih, bahkan ada yang sampai 5 meter juga. Rumah semut,begitu orang menyebutnya, namun semut yang dimaksud  adalah semut putih atau koloni rayap. Menggunakan campuran dari rumput kering sebagai bahan utama dan liur sebagai semen untuk merekatkannya, dibutuhkan waktu yang lama untuk membangun istana rayap ini. Rayap yang membangun musamus adalah rayap dengan jenis macrotermes sp. Rayap ini canggih karena hasil karyanya menurut para ahli adalah bangunan tahan gempa. Memang benar juga sebab  Musamus ini sudah ada sejak puluhan tahun dan tetap berdiri. Musamus selain tahan gempa juga punya keistimewaan ventilasi udara yang bisa membuat suhu selalu hangat dan tidak terpengaruh cuaca luar, rayap ini menerapkan rahasia alam yang baru terungkap sebagian saja oleh para peneliti. Musamus adalah rumah semut dengan bentuk seperti buah belimbing yang dipotong salah satu bagian ujungnya lalu didirikan, warnanya coklat dan menjadi sangat unik untuk dipandang. Keajaiban musamus ini bisa ditemukan Taman Nasional Wasur, Merauke

Lebih lanjut tentang berita ini klik: disini
Copyright © 2013 Papua Untuk Semua